5 Fakta Menarik Soal Monas Yang Tidak Banyak Diketahui, Penasaran?

Salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi saat musim liburan tiba adalah Monumen Nasional atau Monas. Hampir setiap musim liburan Monas menjadi destinasi yang selalu ramai dikunjungi. Pengunjung Monas tidak hanya datang dari Jakarta, tapi juga dari luar daerah.

Selain karena murah, berkunjung ke Monas juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk mempelajari sejarah bangsa Indonesia. Maka tak heran, di hari-hari tertentu, Monas kerap didatangi rombongan pelajar dari tiap tingkatan sekolah dari berbagai daerah.

Dibalik fakta Monas sebagai destinasi wisata, banyak yang belum mengetahui fakta sejarah bangunan yang berdiri di atas hahan seluas 80 hektare (ha) itu. Dilansir dari liputan6.com, berikut 5 fakta soal kawasan Monas yang belum banyak diketahui:

1. Lambang Keperkasaan

Dikutip dari jakarta.go.id, Monas merupakan monumen (tugu) yang melambangkan keperkasaan perjuangan bangsa Indonesia. Terletak di tengah lapangan Merdeka, yang salah satu bagiannya yakni lapangan Ikada pernah digunakan Sukarno dan Hatta sebagai tempat mengadakan rapat raksasa.

Keduanya menghimpun kekuatan rakyat untuk mengusir penjajah yang akan kembali dan merebut kekuasaan pemerintah dari Jepang.

Dalam membangun Monumen Nasional atau Monas, Proklamasi 17 Agustus 1945 dijadikan simbol yang dituangkan dalam wujud tugu, agar rakyat selalu bisa mengenang peristiwa yang luar biasa tersebut.

Dengan mengambil perencanaan, konstruksi, dan material dalam negeri, juga bantuan luar negeri dari Jepang, Jerman Barat, Italia, dan Prancis, pembangunan dilaksanakan dalam 3 tahap. Monumen setinggi 132 meter (433 kaki) itu telah dibuka untuk umum sejak 12 Juli 1975 setelah pembangunan yang dimulai pada 17 Agustus 1961 rampung.

2. Tertunda Karena Pemberontakan PKI

Pembangunan tahap pertama dimulai pada kurun waktu 1961/1962 – 1964/1965, pembangunan di mulai secara resmi pada 17 Agustus 1961 oleh Presiden Sukarno yang secara seremonial menancapkan pasak beton pertama.

Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada Maret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963.

Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968. Akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda.

Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum.

Monas secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada 12 Juli 1975 oleh Presiden Soeharto.

3. Nilai Emas Tak Terhingga

Nilai sejarah Monas tentu tidak ternilai, namun bagi yang penasaran dengan nilai harga Monas saat ini, portal properti Indonesia Lamudi telah menghitung estimasi nilai harga Monas untuk Anda dan harga yang didapatkan adalah sebesar Rp 32,4 triliun.

Lahan seluas 80 hektare (ha) tempat Monas berada, yang disebut Lapangan Merdeka, merupakan bagian yang paling mahal dari monumen ini, yaitu seharga Rp 32 trilliun.

Pada tahun 1975, biaya konstruksinya saat itu menghabiskan sekitar Rp 7 miliar, namun jika dikalkulasikan setelah inflasi, saat ini biaya tersebut setara dengan Rp 365,5 miliar.

“Angka ini menunjukkan, bahwa tidak saja Monas memiliki nilai sejarah yang tidak ternilai harganya, namun dalam hitungan moneter, Monas juga memiliki nilai yang sangat besar,” ungkap Managing Director Lamudi Indonesia Karan Khetan di Jakarta.

Monas dibangun hanya dalam kurun satu setengah dekade setelah kemerdekaan Indonesia. Komite pembangunan Monas mengadakan kompetisi untuk mendesain monumen ini, namun pemerintaha saat itu tidak bisa membiayai hasil desain yang menjadi pemenang.

Tapi berkat tekad yang keras dari pemerintah dan sumbangan dari masyarakat Indonesia, Monas berhasil dibuka untuk umum pada 1975, 14 tahun setelah pembangunannya dimulai.

4. Sayembara Merancang Monas

Sebelum pelaksanaan pembangunan, Presiden Sukarno sempat mengadakan sayembara merancang Tugu Monas. Sayembara ini berlangsung terbuka untuk semua WNI baik secara kolektif atau individu, yang dibuka 17 Februari 1955 dan ditutup Mei 1956 yang diikuti 51 peserta.

Terpilih sebagai peserta terbaik adalah F. Silaban, tetapi ia tidak mampu memenuhi syarat pembentukan tugu.

Sayembara ulangan dibentuk dengan juri yang diatur oleh Kepres RI No. 33/1960 dan dimulai 10 Mei 1960. Bentuk tugu yang diinginkan panitia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia, karya budaya yang menimbulkan semangat patriotik, tiga dimensi, tidak rata, menjulang tinggi, terbuat dari beton, besi, dan batu pualam, serta bisa tahan 1.000 tahun.

Dalam sayembara ulangan yang ditutup 15 Oktober 1960, dari peserta 222 orang dan 136 rancangan, belum juga bisa memenuhi kriteria yang ditetapkan panitia.

Presiden Sukarno selaku ketua juri lalu menunjuk arsitek Soedarsono dan F. Silaban untuk membuat rencana rancangan Tugu Nasional. Setelah rencana gagasan disetujui pada 1961, maka dimulai pemancangan tiang pertama tanggal 17 Agustus 1961.

Dalam pelaksanaannya, Soedarsono bertindak selaku direksi pelaksana, Prof. Ir. Rooseno sebagai supervisor dalam konstruksi beton bertulangnya, PN Adhi Karya sebagai pelaksana utama atas dasar upah ditambah jasa. Dalam hal wewenang kekuasaan daerah, koordinasi, logistik, perjanjian kerja dengan kontraktor dipegang oleh Umar Wirahadikusuma.

5. 5 Kali Ganti Nama

Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami 5 kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas.

Di sekeliling tugu terdapat taman, 2 buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur, Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.

Monumen Nasional terdiri atas beberapa bagian, yakni: Pintu Gerbang Utama, Ruang Museum Sejarah, Ruang Kemerdekaan, Pelataran Cawan, Puncak Tugu, Api Kemerdekaan, Badan Tugu. Seluruh ukuran yang terdapat dalam Tugu Nasional sudah disesuaikan dengan angka hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17-08-1945.

Loading...