Popularitas Ahok Tidak Terbendung Jadi Cawapres 2019, Fahri Hamzah Tidak Terima Dan Bilang Seperti Ini…

Dunia politik itu memang kejam banget. Tidak heran jika banyak politikus yang rela ‘bermuka dua’ hanya demi meraih popularitas. Namun, jika hal itu dilakukan, maka dengan sendirinya akan hilang tanpa berbekas di hati rakyat. Namun, Ahok membuktikan bahwa tanpa perlu ‘bermuka dua’ pun bisa kok populer dan melekat di hati rakyat.

Tidak heran jika meskipun sudah mendekam dalam penjara, Ahok masih tetap menjadi permbicaraan banyak orang karena prestasi dan juga karena kejujurannya dalam memimpin DKI Jakarta. Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Indikator membuktikan bahwa Ahok ternyata masih populer. Ahok pun menempati posisi pertama sebagai unggulan mendampingi presiden Jokowi dalam pemilihan presiden 2019.

Mendengar hasil survei Indikator itu, Politisi PKS Fahri Hamzah tidak terima. Ia pun meminta agar tidak perlu lagi membicarakan soal Ahok. “K‎alau saya menyarankan, kita nggak usah ngomong Ahok lagi lah dulu. Berhenti aja‎,” ujar Fahri di komplek parlemen, Senayan, Jakarta, dikutip tribunnews.com.

Fahri menilai Indonesia harus memiliki konsep kepemimpinan yang tidak menjadi beban bangsa. Karena berbicara konteks sekarang masih banyak masalah membelit Ahok yang belum tuntas. “Jadi yang sudah jadi beban, sudahlah. Jadi kita maju ke depan tanpa beban. Kita maju dengan sayap yang ringan, dan tidak basah, sehingga mudah dikepakan, maka Garuda kita terbang tinggi ke angkasa tanpa beban. Sebaiknya seperti itu,” katanya.

Fahri menduga saat ini ada pihak pihak yang tidak puas dengan putusan pengadilan yang memenjarakan Ahok serta hasil Pilkada yang membuat Ahok tersingkir. Oleh karenanya kemudian dimunculkan kembali nama Ahok dalam konstelasi politik. Menurut Fahri, Indonesia masih banyak memiliki tokoh tokoh yang layak untuk menjadi pemimpin.

Tokoh yang bekerja namun tanpa banyak bicara baik itu yang sekarang berada di dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena itu menurutnya, Ahok sebaiknya tidak dibicarakan lagi. ‎”Sudahlah, enggak usah diomongin lagi lah. Orang juga lagi menjalani masa dia sebagai, mohon maaf ini tidak etis, enggak enak disebut, tapi disebutnya kan narapidana. Jadi itu sudahlah. Indonesia ini banyak sekali jagoannya. Itulah maksud dari reformasi 19 tahun yang lalu,” pungkasnya.

‎Sebelumnya Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo paling diunggulkan menjadi calon wakil presiden bagi Joko Widodo pada Pemilu 2019. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada 17-24 September 2017. Pada survei ini, responden ditanya tentang siapa yang paling pantas mendampingi Jokowi selaku presiden petahana pada Pemilu 2019.

Ada 16 nama calon wakil yang diberikan sebagai opsi. Ahok mendapatkan 16 persen suara responden, paling tinggi di antara nama-nama lain dalam survei itu. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai bahwa tingginya elektabilitas Ahok itu tidak lepas dari pengalaman Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012-2014.

Menurut Burhan, masih banyak masyarakat yang ingin melihat duet itu terjadi di skala nasional meskipun Ahok menjadi terpidana kasus penistaan agama. “Ahok, meskipun masih di penjara, tetap nomor satu,” kata Burhanuddin saat merilis hasil survei di kantornya, di Jakarta, Rabu (11/10/2017).